Bisakah aku menjadi satu satunya?
Untukmu, yang pernah kujadikan tempat sandaran.
Tentang setiap raguku yang menjadi sumber keresahan hati
Tentang segala sikapmu yang menjadi tanya disetiap hari.
Apa benar aku adalah satu satunya?
Entah kenapa pertanyaan itu selalu menghantuiku saat aku, tengah mencoba untuk percaya, kembali.
Kutepis setiap pagi namun mereka datang lagi dan lagi.
Aku bisa apa ketika mereka memberontak dengan segala tanya.
Menyudutkan dengan berbagai fakta.
Aku tak mampu lagi menciptakan kebohongan baru hanya untuk menciptakan kebahagiaan palsu denganmu.
Aku tak mampu lagi mengolah kata suka cita diantara duka yang tengah melanda.
Hatiku benar benar patah dan segala rusuk ku rusak parah.
Bagaimana kau akan merengkuhku saat tanganmu dan dia saling berpegang erat.
Bagaimana bisa kau tertawa saat orang yang kau anggap belahan cintamu tengah berderai air mata?
Jangan salahkan dia yang menghamipiri saat pijakanku untuk berdiri telah berganti.
Saat yang kuanggap tempat pulang nyatanya hilang.
Adalah kemunafikan jika aku tak merasakan kecewa lagi.
Kamu menghancurkannya.
Kesempatan yang tak akan pernah ada duanya.
Dan aku,
Tidak pernah menjadi satu satunya.
Salam dariku yang pernah patah,
-Aku
Komentar
Posting Komentar